Siasati Kenaikan Harga BBM, Mahasiswa FAH UIN Jakarta Bagikan Tips Atur Keuangan hingga Dukung Green Campus
Siasati Kenaikan Harga BBM, Mahasiswa FAH UIN Jakarta Bagikan Tips Atur Keuangan hingga Dukung Green Campus

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter, kembali menjadi perhatian publik karena dampaknya yang meluas terhadap biaya transportasi, kebutuhan harian, hingga pola konsumsi masyarakat. Kondisi ini turut dirasakan oleh mahasiswa di lingkungan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang mulai menyesuaikan cara mereka mengelola keuangan agar tetap stabil di tengah tekanan ekonomi.

Untuk memahami dampak tersebut, dilakukan wawancara terhadap sejumlah mahasiswa FAH mengenai strategi mereka dalam menghadapi kenaikan biaya hidup. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan harga BBM tidak hanya berdampak pada aspek finansial, tetapi juga mendorong perubahan perilaku konsumsi dan kesadaran lingkungan di kalangan mahasiswa.

Dampak Langsung: Penyesuaian Uang Saku dan Biaya Hidup

Sebagian besar mahasiswa mengaku tidak mengalami kenaikan uang saku dari orang tua, sementara biaya transportasi dan kebutuhan harian justru meningkat. Kondisi ini membuat mereka harus lebih selektif dalam mengatur pengeluaran bulanan.

Di sisi lain, terdapat mahasiswa yang mendapatkan penyesuaian berupa tambahan uang saku untuk mengimbangi kenaikan biaya hidup. Namun demikian, tambahan tersebut tetap dinilai belum sepenuhnya menutupi kenaikan pengeluaran, terutama untuk kebutuhan transportasi dan kebutuhan personal seperti perawatan diri.

Fenomena ini sejalan dengan laporan berbagai media nasional yang menyebutkan bahwa kenaikan harga energi, termasuk BBM, memiliki efek domino terhadap inflasi transportasi dan barang konsumsi sehari-hari Kompas: Dampak Kenaikan BBM terhadap Inflasi.

Perspektif Mahasiswa: Dari Beban Ekonomi hingga Kesadaran Lingkungan

Menariknya, sebagian mahasiswa tidak hanya melihat kenaikan harga BBM sebagai beban ekonomi, tetapi juga sebagai momentum refleksi terhadap pola konsumsi masyarakat. Salah satu pandangan yang muncul adalah bahwa meningkatnya harga barang kemasan, termasuk produk skincare, dapat mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Pandangan ini selaras dengan konsep green campus yang terus didorong di lingkungan kampus UIN Jakarta, termasuk FAH, yaitu membangun kesadaran ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, tekanan ekonomi justru dapat menjadi pemicu perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan.

Sejumlah kajian lingkungan juga menunjukkan bahwa perubahan perilaku konsumsi masyarakat dapat terjadi ketika harga barang mencerminkan dampak ekologisnya, termasuk pengurangan limbah plastik dan konsumsi berlebihan Tempo: Gaya Hidup Ramah Lingkungan di Kalangan Anak Muda.

Strategi Mahasiswa: Mengatur Uang dengan Lebih Disiplin

Dalam menghadapi kondisi tersebut, mahasiswa FAH menerapkan berbagai strategi pengelolaan keuangan yang sederhana namun efektif. Salah satunya adalah dengan menunda pembelian barang yang tidak bersifat mendesak serta membiasakan diri menabung dari sisa uang saku.

Selain itu, strategi yang cukup populer adalah pemisahan rekening antara uang kebutuhan harian dan tabungan. Dengan cara ini, mahasiswa dapat mengontrol pengeluaran secara lebih ketat. Misalnya, dari uang saku Rp150.000, sebagian langsung dialokasikan ke rekening tabungan sebelum digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dasar literasi keuangan yang direkomendasikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yaitu “membagi pendapatan ke dalam kebutuhan, keinginan, dan tabungan/investasi” OJK: Literasi Keuangan Indonesia.

Solusi dan Rekomendasi untuk Mahasiswa

Selain strategi individu, terdapat beberapa solusi yang dapat diterapkan oleh mahasiswa untuk menghadapi tekanan ekonomi akibat kenaikan harga BBM:

  1. Meningkatkan literasi keuangan sejak dini
    Mahasiswa perlu memahami dasar pengelolaan keuangan seperti pencatatan pengeluaran, budgeting bulanan, dan pengendalian konsumsi impulsif.
  2. Mengoptimalkan transportasi bersama (carpooling dan transportasi umum)
    Penggunaan transportasi umum atau berbagi kendaraan dapat menjadi solusi untuk menekan biaya harian sekaligus mengurangi emisi karbon.
  3. Memanfaatkan teknologi pengelola keuangan
    Aplikasi seperti dompet digital dan budgeting apps dapat membantu mahasiswa memantau arus keluar-masuk keuangan secara lebih transparan.
  4. Mendukung gaya hidup minimalis (frugal living)
    Mahasiswa dapat memprioritaskan kebutuhan utama dan mengurangi pengeluaran untuk hal-hal konsumtif yang tidak mendesak.
  5. Peran kampus dalam edukasi finansial
    Kampus dapat mengadakan seminar literasi keuangan atau workshop pengelolaan keuangan mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran finansial secara kolektif.

Menurut laporan Bank Indonesia, peningkatan literasi keuangan masyarakat dapat membantu memperkuat ketahanan ekonomi individu dalam menghadapi gejolak harga dan inflasi Bank Indonesia: Edukasi Keuangan.

Kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga mendorong perubahan perilaku di kalangan mahasiswa. Mahasiswa FAH UIN Jakarta menunjukkan kemampuan adaptasi melalui pengelolaan keuangan yang lebih disiplin, kesadaran lingkungan, serta strategi hidup hemat yang lebih terencana.

Lebih jauh, kondisi ini juga membuka ruang pembelajaran penting bahwa literasi keuangan dan kesadaran ekologis merupakan dua aspek yang saling berkaitan dalam membentuk generasi mahasiswa yang tangguh, bijak, dan berkelanjutan.

Penulis: Nadhira Sonja Isinbayeva