Sering Mendengar Istilah “Cuma Wacana..”? : Ternyata Ada Studinya.
Sering Mendengar Istilah “Cuma Wacana..”? : Ternyata Ada Studinya.

Tidak hanya mahasiswa atau golongan akademisi yang pasti pernah setidaknya mendengar ungkapan “ah Cuma wacana” di obrolan sehari-hari. Biasanya ucapan ini dikemukakan sebagai respon akan adanya visi atau ide, rancangan, atau desas-desus yang mungkin akan dan telah terwujud di dunia nyata. Namun, ketika diminta menjelaskan secara konkret, banyak yang bingung. Mengapa konsep wacana terasa begitu abstrak?

Pada hakikatnya bahasa yang kita gunakan hadir sebagai medium utama manusia dalam memahami dunia serta realita sosial. Realita sosial lahir, bertahan, dan terus berkelanjutan dalam suatu pola dialektis melibatkan interaksi simbolik, relasi antar kekuasaan, serta kesepakatan kolektif atau konvensi yang terus diperbarui dalam praktik komunikasi sehari-hari. Singkatnya, wacana atau dalam cabang ilmu linguistik dikenal sebagai analisis wacana (Discourse Analysis) berbicara tentang penggunaan bahasa pada konteksnya bersumber dari realita social sebagai unit bahasa yang terlengkap dan bermakna padu. Ia terbentuk dari kesatuan dan keseluruhan pesan dari rangkaian kata, frasa, kalimat, atau bahkan symbol yang saling terhubung dalam mengonstruksi suatu makna. Aplikasinya dapat ditemukan pada berbagai bentuk, tidak hanya teks tertulis, namun bisa berupa obrolan sehari-hari, pidato, iklan, kampanye politik, dll.

Wacana, jika ditelisik sulit untuk diobservasi tanpa alat bantu karena sifatnya yang abstrak. Memang, wacana terkandung dalam sebuah obrolan dan berbagai jenis komunikasi diatas, tapi itu semua bukan wujud otentik dari wacana itu sendiri. Wacana meletakkan dirinya di balik teks yang kita konsumsi. Ini berupa pemahaman yang kita peroleh terhadap suatu hal, kecenderungan ideologis yang ada dalam teks, dan susunan retorika dan pemilihan diksi yang digunakan. Asumsi ini jarang dipertanyakan dalam wacana itu sendiri, karena ia diterima sebagai “kebenaran”. Hal-hal yang tak terucapkan inilah yang abstrak, tetapi menjadi fondasi pemahaman kita.

Sifat lain yang mendasari wacana Adalah ia hidup dalam jejaring kekuasaan. Di awal sempat disinggung tentang relasi kekuasaan, yang itu berarti siapa yang mengendalikan piranti dengan segala kewenangannya (pemerintah, akademisi, media) mampu mengontrol dan mendominasi wacana tertentu. Meski terkesan seperti dictator karena berpeluang memaksa terbangunnya ideologi tertentu lewat teks, wacana tidak sepasif itu. Ia dibangun dalam rantai intertekstualitas yang sifatnya kontinyu (tidak akan pernah berakhir) dari waktu ke waktu, dan itu sebabnya konteks historis juga perlu untuk dipertimbangkan dalam kajiannya mengenai asal muasal konteks yang menaungi sebuah frasa atau kata. 

Inti persoalannya Adalah, kerangka macam apa yang harus dipakai ketika dihadapkan pada persoalan yang abstrak ini. Seperti halnya menjadi seorang detektif, kita perlu mengetahui gejala, sebab musabab, dan implikasi atau kemungkinan akibat yang akan timbul dari dibuatkannya suatu teks. Ini meliputi 3 hal : Siapa yang berbicara?, Apa yang tidak dibicarakan?, dan Apa tujuan dari cara penyampaian seperti ini?

Dengan demikian, para ahli Bahasa menganggap perlu adanya pendekatan yang empiris dalam membongkar tatanan makna dan ideologi yang terselubung melalui kerangka Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis). Salah satu tokoh sentral dalam kajian ini yakni Norman Fairclough yang beranggapan bahwa Bahasa Adalah medan pertarungan. Ia mengklasifikasikan model analisisnya menjadi 3: Dimensi teks, dimensi praktik wacana, dan dimensi praktik social. Dimensi teks membedah unsur-unsur konkret dalam teks (bisa tulisan, percakapan, video, dimensi praktik wacana membedah bagaimana teks ini diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi dan terakhir dimensi praktik social mengupas efek ideologi dan konteks kultural terhadap masyarakat dan struktur kekuasaan yang lebih besar. Itu sebabnya ketika kita membaca, jangan hanya membaca apa yang ada di permukaan, tapi perlu untuk menyelami lebih dalam mekanisme teks tersebut dan pengaruh apa yang ingin dicoba untuk disisipkan oleh penulis kepada pembaca.

Penulis : Andika Pratama

Referensi

Fairclough, N. (1992). Discourse and social change. Polity Press.

Fairclough, N. (2013). Critical discourse analysis: The critical study of language (3rd ed.). Routledge.

Van Dijk, T. A. (2008). Discourse and power. Palgrave Macmillan.

Sumber Foto: https://s1sj.fbs.unesa.ac.id/post/berkenalan-dengan-analisis-wacana-kritis-awk