Seminar Ilmiah BSA Bahas Kesatuan dan Keberagaman dalam Teori Tata Bahasa Arab
Tangerang Selatan, Berita FAH Online – Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Seminar Ilmiah bertajuk “Kesatuan dan Keberagaman dalam Teori Tata Bahasa Arab” pada Senin, 7/09/2026, bertepatan dengan 25 Rabiul Awal 1448 H. Kegiatan yang dipandu oleh Bobby Mahbubi, M.Hum. ini menjadi ruang akademik bagi mahasiswa dan sivitas akademika untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan teori tata bahasa Arab serta dinamika kajian ilmu nahwu. Seminar tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan dosen yang memiliki kepakaran di bidang bahasa Arab dan linguistik.
Dalam sambutannya, Dekan FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Ade Abdul Hak, S.Ag., S.S., M.Hum menyampaikan apresiasi kepada Program Studi Bahasa dan Sastra Arab atas terselenggaranya kegiatan ilmiah yang menghadirkan akademisi dan pakar di bidang linguistik Arab.
Dekan menegaskan bahwa bahasa Arab tidak hanya memiliki fungsi sebagai bahasa komunikasi, tetapi juga mempunyai posisi penting dalam kajian keislaman, kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, kajian bahasa Arab perlu terus dikembangkan secara akademis dengan memperhatikan kekayaan teori, perspektif, serta fenomena kebahasaan. Menurutnya, pembahasan mengenai kesatuan dan keberagaman teori tata bahasa Arab menjadi penting karena perkembangan ilmu bahasa melahirkan berbagai pendekatan dan pandangan dalam memahami struktur bahasa Arab.
“Melalui kegiatan ilmiah seperti seminar ini, mahasiswa diharapkan memperoleh wawasan baru, mampu berpikir kritis, serta terdorong untuk terus melakukan kajian ilmiah di bidang bahasa Arab,” demikian pokok pesan Dekan dalam sambutannya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para narasumber dan seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Seminar menghadirkan Dr. Hasan Ali Hamzah, Profesor pada Program Linguistik dan Leksikografi Arab, Doha Institute for Graduate Studies, sebagai pemateri pertama dengan moderator Husni Thamrin, M.A. Dalam pemaparannya, Dr. Hasan Ali Hamzah menjelaskan bahwa teori tata bahasa Arab memiliki unsur kesatuan sekaligus keberagaman. Kesatuan terlihat dari prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi kajian nahwu, sementara keberagaman tercermin dalam perbedaan pendekatan, analisis, dan pemikiran para ahli bahasa. Perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari perkembangan tradisi keilmuan bahasa Arab dan dapat memperkaya pemahaman terhadap sistem bahasa Arab.
Sementara itu, Ali Hasan Bahar, M.A., dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, menekankan bahwa keberagaman pemikiran dalam teori tata bahasa Arab merupakan bagian penting dari perkembangan ilmu nahwu. Dengan memahami berbagai pandangan dan pendekatan yang berkembang, kajian bahasa Arab dapat dilakukan secara lebih luas, kritis, dan kontekstual.
Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Dr. Cahya Buana, M.A., dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, melalui materi berjudul “Transformasi dan Keragaman Metode Pengajaran Nahwu Arab di Indonesia: Antara Tradisi dan Modernisasi.” Ia menjelaskan bahwa ilmu nahwu memiliki peran penting bagi santri dan mahasiswa, terutama dalam memahami struktur kalimat Arab, menangkap makna teks, membaca teks dengan benar, serta memahami warisan keilmuan Arab-Islam. Dalam konteks tersebut, nahwu bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk memahami teks secara lebih baik.
Dr. Cahya juga menguraikan perkembangan pengajaran nahwu dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia. Kitab-kitab Arab atau kitab kuning selama ini menjadi salah satu sumber utama pembelajaran, sementara ilmu nahwu menjadi bagian dasar dalam kurikulum pesantren dengan tujuan utama membantu peserta didik membaca dan memahami kitab-kitab turats. Seiring perkembangan zaman, metode pengajaran nahwu mengalami modernisasi, antara lain melalui peralihan dari metode hafalan dan penjelasan menuju penggunaan contoh, latihan, praktik, serta metode induktif.
Modernisasi tersebut antara lain terlihat dalam penggunaan metode seperti Nahwu al-Wadhih, yang mengedepankan tahapan contoh, pengamatan, kesimpulan, kaidah, dan latihan; Durus al-Lughah al-’Arabiyyah, yang mengaitkan kaidah dengan penggunaan bahasa Arab secara praktis; serta Thariqah Amtsilati, yang menyederhanakan pembelajaran nahwu-sharaf untuk memudahkan pemahaman Al-Qur’an dan kitab turats. Inti modernisasi pengajaran nahwu terletak pada penyederhanaan kaidah sekaligus peningkatan latihan dan praktik.
Seminar ilmiah ini diharapkan tidak hanya memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai teori tata bahasa Arab, tetapi juga mendorong lahirnya cara pandang yang lebih terbuka terhadap keragaman tradisi dan metode dalam kajian nahwu. Melalui forum akademik semacam ini, Program Studi Bahasa dan Sastra Arab FAH UIN Jakarta terus memperkuat budaya ilmiah sekaligus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kajian bahasa Arab yang relevan dengan perkembangan zaman.
Penulis: Kasih Nur/ Deny
Dokumentasi:




