Menapaki Jejak Peradaban: Prodi Sejarah dan Peradaban Islam Bekali Mahasiswa Baru 2026 dengan Akhlak, Nalar Kritis, dan Jiwa Kepemimpinan
Tangerang Selatan, Berita FAH Online — Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan kegiatan upgrading Mahasiswa Baru Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam 2026 dengan mengangkat tema “Jejak Langkah Peradaban: Membentuk Sejarawan Muslim Berakhlak Karimah dan Berjiwa Pemimpin.” Kegiatan tersebut diselenggarakan pada hari Rabu dan Kamis, 20-21 Rabiul Awal 1448 H bertepatan tanggal 2-3 September 2026, bertempat di Ruang Teater Abdul Ghani, Lantai 5, Gedung Fakultas Adab dan Humaniora.
Kegiatan upgrading yang berlangsung selama dua hari ini dirancang sebagai ruang orientasi akademik dan pengembangan karakter bagi mahasiswa baru. Melalui rangkaian materi dan diskusi, mahasiswa diperkenalkan pada dunia sejarah secara lebih komprehensif, sekaligus diberikan wawasan mengenai berbagai bidang profesi dan ruang pengabdian yang dapat ditekuni setelah menyelesaikan masa studi.
Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan dihadiri oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Prof. Usep Abdul Matin, S.Ag., M.A., Ph.D., Ketua Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam Dr. Zakiya Darajat, M.A., serta Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi SPI Thoriq Aziz Dawaisla beserta pengurus HMPS lainnya. Kegiatan upgrading ini menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Dr. Faizal Arifin, M.Hum., Nurul Azizah, M.Hum., Dr. Hj. Tati Hartimah, M.A., Elisa Kurnia Dewi, M.Psy., Dr. Awalia Rahma, M.A., Dr. Imas Emalia, M.Hum., Alfida Marifatullah, S.Hum., M.A., dan Safurotun Ziah, S.Hum., M.A. Seluruh rangkaian kegiatan disambut antusias oleh mahasiswa baru Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam 2026.
Ketua Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam Dr. Zakiya Darajat, M.A. dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan upgrading merupakan bagian dari ikhtiar program studi dalam mempersiapkan mahasiswa agar mampu mengambil peran strategis di masa mendatang. Selain memperkenalkan fokus kurikulum dan metode pembelajaran di Program Studi SPI, kegiatan ini juga diarahkan pada pembentukan karakter dan akhlak mahasiswa.
“Di Prodi SPI kita tidak hanya mengkaji bagaimana kebangkitan dan keruntuhan sejarah masa lalu, tetapi juga bagaimana kemudian kita mengkaji dan mengemas sejarah itu dengan berbagai macam teknologi integrasi dan lain-lain. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa untuk mengambil peran strategis di masa yang akan datang dengan cara dibekali akhlakul karimah, ketahanan mental (resiliensi), dan jiwa kepemimpinan. Ini adalah bentuk ikhtiar dari Prodi untuk mahasiswa baru SPI,” ujarnya. Kaprodi juga menegaskan bahwa jejak langkah peradaban mengingatkan kita bahwa setiap generasi memiliki perannya masing-masing dalam menciptakan sejarah. Peradaban tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya menjadi penonton. Peradaban dibangun oleh manusia yang memiliki ilmu, karakter, keberanian, keteguhan, dan visi yang jauh ke depan. Untuk itulah Prodi SPI mengadakan kegiatan upgrading ini, sebagai ikhtiar prodi dalam mempersiapkan lahirnya calon sejarawan Muslim yang tidak hanya cerdas, kritis, tapi juga berkarakter dan mampu beradaptasi dengan dunia baru.
Sementara itu, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Prof. Usep Abdul Matin, S.Ag., M.A., Ph.D. mengingatkan mahasiswa baru agar tidak memendam sendiri berbagai persoalan yang mungkin muncul selama menjalani proses perkuliahan. Ia mendorong mahasiswa untuk terlebih dahulu berkomunikasi dengan Ketua Program Studi maupun Sekretaris Program Studi ketika menghadapi kendala akademik maupun persoalan lainnya.
Selain itu, Prof. Usep juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan potensi sesuai dengan minat dan bakat masing-masing melalui berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun lembaga organisasi yang tersedia di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia juga menekankan pentingnya penguatan kemampuan keagamaan, khususnya dalam membaca Al-Qur’an.
“Kalian ketika memiliki masalah selama perkuliahan silakan sampaikan kepada Kaprodi dan Sekprodi terlebih dahulu, jangan disimpan sendiri, agar masalahnya bisa mendapatkan titik terangnya. Selain itu, teman-teman yang memiliki keahlian dan minat dalam suatu bidang silakan untuk mengikuti UKM ataupun LO yang ada di UIN Jakarta ini. Serta mahasiswa SPI ini kebanyakan berasal dari aliyah, jadi dimohon diperbaiki lagi bacaan Al-Qur’annya,” ujarnya.
Bangga Menjadi Sejarawan Muslim
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi materi bertajuk “Bangga Menjadi Sejarawan Muslim” yang disampaikan oleh Dr. Faizal Arifin, M.Hum. dan Nurul Azizah, M.Hum., dengan Muhammad Anizi Riziq sebagai moderator.
Dalam sesi tersebut, Nurul Azizah, M.Hum., selaku Sekretaris Program Studi SPI, menjelaskan mengenai tujuan dan arah yang perlu dipahami mahasiswa dalam mengenal dunia sejarah. Ia mengajak mahasiswa baru untuk merefleksikan kembali alasan mereka memilih Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam sebagai bagian dari perjalanan akademiknya. Nurul menjelaskan bahwa keberadaan sejarah tetap memiliki relevansi penting dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Sejarah membantu individu memahami identitas dan memori masa lalu, membantu keluarga mengetahui silsilahnya, membantu bangsa menjaga ingatan atas perjuangan para pahlawan, serta membantu masyarakat memahami faktor-faktor yang memengaruhi kejayaan maupun kemunduran suatu bangsa.
“Mengapa masyarakat masih membutuhkan sejarah? Pertama, individu; jika tidak ada sejarah, manusia akan mudah kehilangan memori ingatannya. Kedua, keluarga, untuk mengetahui silsilah keluarganya. Ketiga, bangsa, agar perjuangan para pahlawan tidak hilang begitu saja. Keempat, suatu kejayaan dan kemunduran bangsa tidak akan pernah bisa kita ketahui jika tidak ada pengaruh sejarah di dalamnya. Maka sejarah memberikan ingatan kepada masyarakat,” tambahnya.
Dalam konteks tersebut, Program Studi SPI berupaya membangun identitas keilmuan mahasiswa agar mampu berkembang sebagai seorang sejarawan Muslim yang nantinya dapat berkiprah di tengah masyarakat. Identitas tersebut tidak hanya dibangun melalui penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga melalui integritas, adab, sikap kritis, reflektif, dan tanggung jawab.
“Apa yang membuat teman-teman menjadi sejarawan Muslim? Meliputi ilmu, integritas, adab, kritis, reflektif, dan tanggung jawab. Selanjutnya, apa saja tanggung jawab sejarawan? Tanggung jawabnya meliputi penjaga ingatan, penguji narasi, pembaca perubahan, dan pendidik masyarakat,” tambahnya.
Sejalan dengan pemaparan tersebut, Dr. Faizal Arifin, M.Hum., Dosen Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam, memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai perkembangan historiografi Islam melalui pemikiran sejumlah tokoh penting beserta karya-karyanya.
“Dalam dunia sejarah Islam ada empat pemikir yang membentuk cara umat Islam menulis dan memahami sejarahnya sendiri. Pertama, At-Tabari atau Muhammad Ibn Jarir Al-Tabari (823–923 M). Dari beliau kita mengenal bahwa sejarah membutuhkan ketekunan dalam mengumpulkan dan menyusun sumber, dengan karya pentingnya Tarikh Al-Rusul wa Al-Muluk. Kedua, Al-Mas’udi atau Abu Al-Hasan Al-Mas’udi (w. 956 M). Dari beliau kita mengenal bahwa sejarah tidak hanya membahas raja dan perang, dengan fokus kajian Muruj Al-Dhahab. Ketiga, Ibn Miskawayh (923–1030 M). Dari beliau kita mengenal sejarah sebagai pengalaman yang dapat dipelajari melalui karya Tajarib Al-Umam. Keempat, Ibn Khaldun (1332–1406 M). Dari beliau kita mengenal bagaimana seharusnya sejarah dikaji dengan melihat sebab dan pola di balik suatu peristiwa melalui karyanya Al-Muqaddimah,” ujarnya.
Dr. Faizal juga menjelaskan bahwa kehadiran Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari berbagai jaringan yang berkembang dalam dunia Islam, seperti perdagangan, pelajar, ulama, pendidikan, dan jaringan intelektual. Salah satu tokoh yang memiliki kontribusi penting dalam memahami hubungan intelektual Islam Nusantara dengan dunia Islam yang lebih luas adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A. (1955–2022), khususnya melalui kajiannya mengenai sejarah sosial-intelektual Islam Indonesia.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa peran sejarawan tetap penting di tengah perkembangan teknologi digital yang begitu pesat. Sejarawan memiliki posisi strategis dalam membantu masyarakat melakukan verifikasi terhadap informasi, terutama dalam menghadapi penyebaran hoaks, informasi tanpa sumber yang jelas, maupun narasi sejarah yang keliru.
“Islam hadir di Indonesia tidak lepas dari adanya pengaruh jaringan seperti perdagangan, pelajar, ulama, pendidikan, dan jaringan intelektual. Salah satu nama tokoh terkenal adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A. (1955–2022). Melalui beliau kita mengenal jaringan intelektual Islam Nusantara dengan dunia Islam yang lebih luas, dengan bidang kajiannya sejarah sosial-intelektual Islam Indonesia. Lantas, apa yang membuat sejarawan masih penting di era digital sekarang? Untuk menangkal hoaks dari informasi yang tersebar, membenahi informasi tanpa sumber, dan membongkar sejarah palsu,” tambahnya.
Pembinaan Akhlak dan Karakter Mahasiswa Muslim
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi “Pembinaan Akhlak/Karakter Mahasiswa Muslim” oleh Dr. Hj. Tati Hartimah, M.A., Dosen Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam, dengan Alyya Azzahra sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Dr. Hj. Tati Hartimah menjelaskan bahwa seorang mahasiswa Muslim perlu memahami konsep akhlak sebagai bagian penting dari pembentukan kepribadian dan karakter. Secara bahasa, akhlak berasal dari bahasa Arab yang merujuk pada budi pekerti atau tingkah laku seseorang yang melekat dalam dirinya dan tercermin melalui perbuatannya. Dalam konteks Islam, akhlak berkaitan dengan moralitas dan etika yang bersumber dari ajaran agama serta mencakup hubungan manusia dengan Tuhan maupun sesama manusia. Untuk memperkaya pemahaman mahasiswa, Dr. Tati juga memperkenalkan konsep akhlak yang dikemukakan oleh sejumlah tokoh pemikir Islam.
“Kita juga harus mengenal akhlak yang dikemukakan oleh beberapa tokoh Islam penting di dunia seperti Ibnu Miskawayh. Akhlak merupakan suatu keadaan bagi jiwa yang mendorong untuk melakukan tindakan-tindakan dari keadaan itu tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan. Abdul Karim Zaidan, akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatan baik atau buruk. Ahmad Mubarok, akhlak adalah kedalaman batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan, di mana perbuatan itu lahir dengan mudah tanpa memikirkan untung dan rugi,” tambahnya.
Menjaga Kesehatan Mental di Dunia yang Sibuk
Menutup rangkaian kegiatan upgrading hari pertama, mahasiswa baru mengikuti sesi pembahasan psikologi bertajuk “Menjaga Kesehatan Mental di Dunia yang Sibuk” yang disampaikan oleh Elisa Kurnia Dewi, M.Psy., Dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Jakarta, dengan Alyaa Jahra Iskandar sebagai moderator.
Elisa Kurnia Dewi, M.Psy. menyampaikan pentingnya meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap berbagai persoalan mental yang dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kehidupan mahasiswa tidak terlepas dari berbagai tantangan, mulai dari persoalan manajemen waktu, kecemasan dan depresi, ketidakamanan finansial, hingga kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus.
“Dalam kehidupan mahasiswa banyak permasalahan mental yang terjadi seperti manajemen waktu. Sebanyak 73% mahasiswa mengalami kesulitan mengatur waktu, kecemasan dan depresi, sebanyak 68% mahasiswa pernah mengalami gangguan kecemasan atau depresi, ketidakamanan finansial, sebanyak 60% mahasiswa merasa sangat cemas terhadap kondisi keuangan keluarganya, kesulitan menyesuaikan diri, sebanyak 42% mahasiswa merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri atau fit in di lingkungan kampus. Sehingga pola respons yang diberikan individu terhadap peristiwa tertentu yang mengganggu keseimbangan atau melebihi kemampuan individu tersebut dalam menghadapinya,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak semata-mata berarti terbebas dari persoalan psikologis, tetapi juga berkaitan dengan kondisi kesejahteraan individu dalam menjalani kehidupan.
“Seorang dikatakan sehat secara mental bila dalam keadaan sejahtera, meliputi: pertama, menyadari kemampuan dirinya; kedua, mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari; ketiga, beraktivitas atau bekerja secara produktif; dan keempat, berkontribusi bagi komunitasnya,” tambahnya.
Di penghujung kegiatan hari pertama, suasana acara menjadi lebih santai melalui penampilan beberapa peserta yang menyumbangkan lagu dari grup musik Superman Is Dead berjudul Bulan dan Kesatria. Kegiatan kemudian ditutup dengan perpulangan mahasiswa baru.
Dasar-Dasar Menulis Akademik dan Berpikir Kritis
Memasuki hari kedua, kegiatan upgrading diawali dengan sesi “Academic Writing and Critical Thinking” yang menghadirkan Dr. Awalia Rahma, M.A. dan Dr. Imas Emalia, M.Hum., dengan Nabil Fakhry sebagai moderator.
Dalam sesi tersebut, Dr. Imas Emalia, M.Hum., Dosen Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam, menjelaskan sejumlah karakteristik yang membedakan insan kampus dengan masyarakat di luar lingkungan akademik. Menurutnya, budaya akademik memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang mampu berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat berperadaban.
“Ada tiga yang menjadi pembeda seorang insan kampus dengan insan non-kampus. Pertama, membudayakan perilaku akademis dalam upaya membangun masyarakat berperadaban. Kedua, mentradisikan membaca dan menulis sebagai pondasi peradaban. Ketiga, membudayakan diskusi,” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa proses belajar di perguruan tinggi menuntut mahasiswa untuk lebih mandiri dan aktif dalam membangun pengetahuannya.
“Seperti apa belajar dalam lingkaran budaya kampus? Pertama, belajar di kampus tidak lagi berpusat kepada guru dan dosen, melainkan dengan 6C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication, Character, dan Citizenship). Kedua, berpikir kritis didasari literasi sehingga melatih argumentasi yang objektif dalam berdiskusi, berkomunikasi, dan berkolaborasi. Ketiga, 6C membentuk karakter insan kampus yang profesional. Secara langsung dan tidak langsung mereka berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, membaca dan menulis merupakan instrumen penting dalam membangun peradaban sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena itu, mahasiswa perlu menjadikan aktivitas literasi sebagai bagian dari kebiasaan akademiknya.
“Seorang insan kampus harus memahami dirinya, bahwa penciri peradaban melalui ilmu pengetahuan adalah menulis dan bersikap objektif terhadap data dan fakta. Bagi insan kampus, menulis adalah kewajiban karena sebagai tahap knowledge cycle dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Membaca dan menulis adalah investasi intelektual jangka panjang,” tambahnya.
Sejalan dengan pemaparan tersebut, Dr. Awalia Rahma, M.A., Dosen Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam, menambahkan bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan kompetensi fundamental yang harus dimiliki mahasiswa sejarah. Kemampuan tersebut diperlukan agar mahasiswa mampu membedakan sumber yang autentik dan tidak autentik serta tidak menerima begitu saja setiap informasi yang diperoleh.
“Mengapa diperlukannya pikiran kritis untuk dimiliki mahasiswa sejarah? Pertama, melawan fakta hafalan. Kedua, menghadapi subjektivitas dan bias. Ketiga, mengelola berbagai interpretasi dan menjawab tantangan zaman (hoaks). Bagaimana caranya untuk berpikir kritis? Pertama, membaca secara kritis semua sumber. Kedua, menganalisis metodologi dan bukti. Ketiga, fokus pada perubahan dan kesinambungan. Keempat, kesadaran diri,” ujarnya.
Menyelami Dunia Baru Mahasiswa
Kegiatan hari kedua kemudian dilanjutkan dengan sesi “Menyelami Dunia Baru Mahasiswa” yang disampaikan oleh Dr. Zakiya Darajat, M.A., dengan Khilda Aqila Sepiani sebagai moderator.
Dalam sesi tersebut, Dr. Zakiya memberikan berbagai wawasan, strategi, dan kiat kepada mahasiswa baru untuk berkembang menjadi mahasiswa yang berprestasi di ruang kelas sekaligus aktif dalam berbagai kegiatan di luar kelas. Ia menjelaskan bahwa memasuki dunia perguruan tinggi merupakan sebuah proses transisi yang menuntut perubahan pola belajar, pola berpikir, dan tanggung jawab pribadi.
“Sebagai seorang mahasiswa baru kita harus memahami terlebih dahulu dunia baru mahasiswa, meliputi peralihan dari dunia siswa ke dunia mahasiswa, pergeseran sistem belajar dari diarahkan menjadi mandiri, serta tanggung jawab pribadi terhadap waktu, tugas, dan pilihan hidup,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu menjadi pribadi yang adaptif dan progresif dengan mengembangkan sejumlah keterampilan yang relevan dengan kehidupan akademik maupun profesional.
“Selanjutnya menjadi mahasiswa yang adaptif dan progresif. Ada beberapa soft skill yang harus dikuasai oleh seorang mahasiswa: berpikir kritis dan analitis, komunikasi efektif, terutama dalam forum akademik, time management—banyak kegiatan, sedikit waktu—bekerja dalam tim dan kepemimpinan. Lalu bagaimana caranya beradaptasi di dunia kampus? Ikut dalam organisasi intra dan ekstra kampus, bangun relasi sehat dengan dosen dan teman lintas prodi, manfaatkan fasilitas kampus, kelola stres dan kesehatan mental,” ujarnya.
Selain membekali mahasiswa dengan kemampuan beradaptasi, Dr. Zakiya juga mengajak mahasiswa baru untuk mulai merancang perjalanan akademiknya melalui roadmap empat tahun selama menempuh studi.
“Maka teman-teman sudah harus membuat tujuan dan langkah empat tahun ke depan selama menempuh masa studinya, seperti: tahun pertama, adaptasi lingkungan kampus; tahun kedua, mulai mengeksplor dunia kampus; tahun ketiga, mulai membuat karya teman-teman; dan tahun keempat, berkontribusi untuk kampus,” tambahnya.
Historia Pride Talks: Menembus Batas, Meraih Studi di Negeri Orang
Sebagai penutup seluruh rangkaian kegiatan upgrading selama dua hari, mahasiswa baru mengikuti sesi “Historia Pride Talks” yang menghadirkan Alfida Marifatullah, S.Hum., M.A. dan Safurotun Ziah, S.Hum., M.A., dengan Ahmad Daffa Rasyidi sebagai moderator.
Dalam sesi inspiratif tersebut, kedua narasumber membagikan pengalaman akademik dan perjalanan mereka dalam memperoleh beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan magister di United Kingdom (UK). Kisah tersebut menjadi refleksi sekaligus motivasi bagi mahasiswa baru bahwa perjalanan akademik dapat membuka peluang untuk melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat internasional. Alfida Marifatullah membagikan pengalaman personalnya dalam meraih beasiswa LPDP. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya dirinya tidak pernah membayangkan dapat melanjutkan pendidikan magister di Inggris. Perjalanan tersebut juga tidak selalu berjalan mulus karena ia sempat mengalami beberapa kegagalan sebelum akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa pada tahun 2024.
“Saya itu belum pernah kepikiran untuk bisa menyelesaikan program magisternya di Inggris. Dulu sebelum saya berhasil mendapatkan beasiswa LPDP di tahun 2024, saya sempat beberapa kali gagal untuk mendapatkannya. Tetapi takdir berkata lain, di kesempatan ketiga saya berhasil mendapatkannya dan tujuannya di negara Inggris,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan memperoleh beasiswa tersebut tidak terlepas dari berbagai persiapan yang telah dilakukan sejak masih menjadi mahasiswa. Pengalaman berorganisasi, mengikuti kegiatan sukarela, menghadiri seminar, serta mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris menjadi bagian penting dari proses tersebut.
“Banyak hal yang harus saya persiapkan sejak di bangku kuliah. Saya mengikuti banyak kegiatan volunteer, baik di lingkungan kampus maupun luar kampus. Selain itu, saya juga mengikuti kegiatan organisasi dan seminar. Ini yang menjadi bekal saya untuk bisa mendapatkan beasiswa LPDP. Dan yang terpenting, selalu melatih Bahasa Inggris saya agar fasih dan bisa digunakan,” ujarnya.
Sejalan yang disampaikan Alfida, Safurotun Ziah, S.Hum., M.A. menambahkan perlunya mahasiswa Prodi SPI sudah berlatih dan belajar menggunakan Bahasa Inggris di lingkungan Kampus, agar nantinya sudah memiliki bekal ketika ingin melanjutkan studi keluar negeri.
“Perlunya kita sejak di bangku perkuliahan mempelajari bahasa Inggris kita, karena ini merupakan Syarat wajib ketika kita ingin melanjutkan studi magister kita keluar negeri” Tambahnya.
Sesi tersebut juga dilengkapi dengan dokumentasi perjalanan kedua narasumber selama menempuh studi di United Kingdom. Melalui berbagai pengalaman yang dibagikan, mahasiswa baru diajak untuk melihat bahwa kesempatan akademik dapat terbuka melalui proses panjang yang membutuhkan keberanian, konsistensi, pengalaman, dan kesiapan diri.
Refleksi: Memaknai Kembali Perjalanan Menjadi Mahasiswa
Sebelum seluruh rangkaian kegiatan upgrading Mahasiswa Baru Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam 2026 berakhir, mahasiswa baru diajak mengikuti sesi refleksi sebagai bagian dari proses evaluasi sekaligus perenungan atas pengalaman yang telah mereka dapatkan selama mengikuti kegiatan.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa diberikan sejumlah pertanyaan reflektif yang mendorong mereka untuk melihat kembali pengalaman selama kegiatan upgrading. Mahasiswa diajak mengungkapkan sejauh mana kegiatan yang telah berlangsung memberikan manfaat bagi mereka, bagaimana persepsi mereka mengenai kehidupan mahasiswa setelah mengikuti rangkaian materi, serta bagaimana mereka memaknai sosok mahasiswa yang berhasil dan kualitas apa saja yang perlu dimiliki untuk mencapai keberhasilan tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya mengingat kembali materi yang telah disampaikan, tetapi juga menghubungkannya dengan kondisi dan perjalanan mereka masing-masing sebagai mahasiswa baru. Refleksi tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami bahwa keberhasilan di perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademik, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi, membangun relasi, mengembangkan potensi, menjaga kesehatan mental, memiliki integritas, serta mampu mengambil peran dan memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitar.
Sesi refleksi berlangsung secara interaktif. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, kesan, serta pemaknaan personal terhadap seluruh rangkaian kegiatan yang telah mereka ikuti selama dua hari. Melalui sesi ini, mahasiswa juga kembali diajak untuk meneguhkan tujuan dan komitmen mereka dalam menjalani kehidupan akademik di Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam.
Penutupan Resmi dan Apresiasi untuk Panitia
Setelah sesi refleksi selesai, kegiatan upgrading Mahasiswa Baru Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam 2026 kemudian ditutup secara resmi oleh Ketua Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam, Dr. Zakiya Darajat, M.A.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Zakiya terlebih dahulu menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sejarah dan Peradaban Islam serta seluruh panitia yang telah berkontribusi dalam mempersiapkan dan menyelenggarakan kegiatan upgrading. Apresiasi tersebut diberikan atas kerja sama dan kontribusi seluruh pihak yang telah membantu Program Studi SPI sehingga rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Keterlibatan mahasiswa melalui HMPS dan kepanitiaan dipandang sebagai bagian penting dari proses pembelajaran organisasi sekaligus bentuk kolaborasi antara program studi dan mahasiswa dalam membangun lingkungan akademik yang aktif dan konstruktif.
Penutupan secara resmi tersebut sekaligus menandai berakhirnya seluruh rangkaian upgrading Mahasiswa Baru Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa dan foto bersama mahasiswa baru bersama Ketua Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, mahasiswa baru diharapkan tidak berhenti pada pengalaman selama dua hari kegiatan upgrading, tetapi mampu membawa nilai-nilai yang diperoleh ke dalam perjalanan akademiknya. Mulai dari membangun kebanggaan sebagai calon sejarawan Muslim, menumbuhkan akhlakul karimah, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan budaya akademik, menjaga kesehatan mental, hingga merancang perjalanan akademik dan profesional secara terarah.
Upgrading SPI 2026 dengan demikian menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenali dunia akademik sekaligus membangun identitas sebagai bagian dari komunitas Sejarah dan Peradaban Islam—sebuah perjalanan untuk memahami masa lalu, membaca perubahan zaman, dan mempersiapkan diri mengambil peran dalam membangun masa depan.
Penulis: Ahmad Daffa Rasyidi/ Dr. Zakiya Darajat, M.A
Dokumentasi:
